Daya Tarik yang Dimiliki Masjid Suro Palembang

1. Bangunan Bersejarah

KH Abdurrahman Delamat ialah sosok ulama sbobet mobile sekaligus Waliyullah yang mengusulkan pembangunan Masjid Suro. Namanya diambil dari nama belakang pewakaf tanah yakni KH Khatib Mahmud.

KH Khatib Mahmud ialah saudagar kaya raya di Kampung Suro. Pada kala itu, tanah di pertigaan kampungnya diwakafkan untuk didirikan sebuah masjid. Adapun peletakan batu pertamanya yakni pada th. 1310 H atau 1889 M.

Pada kala itu, suasana Indonesia tetap dijajah Belanda supaya pembangunan masjid dilaksanakan secara bertahap dan membutuhkan kala yang lumayan lama. Pada awalnya, luas lahan masjid hanya 17×17 m.

Di umur muda, Kiai Abdurrahman Delamat diberi kesempatan oleh Sultan Mahmud Badaruddin II untuk menempuh pendidikan di Mekkah dengan Kiai Marogan. Sepulangnya dari tanah suci, keduanya lagi pulang untuk menyebarkan ilmunya di Palembang.

Kiai Marogan fokus di lokasi Ulu sedang Kiai Delamat di tempat Kampung Suro. Pada kala itu, penyebaran Islam tetap dilaksanakan secara bersembunyi-sembunyi gara-gara Belanda mengawas ketat lebih dari 30 tahun.

Bahkan, sehabis Wisata Masjid Suro Palembang berdiri, aktivitas ibadah shalat tetap belum diperbolehkan Belanda gara-gara khawatir pribumi lakukan pemberontakan. Akan tetapi, sehabis pembangunan masjid selama 30 tahun, akhirnya Belanda mengizinkan shalat Jumat.

Pada masa awalnya, hanya bagian sedang Masjid Suro yang ada, dengan segi kanan dan kirinya belum dibangun hingga masa 1950-an dikala berjalan ekspansi lahan.

Meskipun pada kala itu pembangunan belum lengkap, aktivitas studi mengajar agama Islam dan tadarus (membaca Al-Quran) tetap berlangsung, kendati dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi.

Namun, berkat kegigihan KH Delamat, Masjid bersejarah ini akhirnya terasa bisa lakukan aktivitas studi mengaji dan sukses menjadi pusat dakwah.

2. Air yang Menyembuhkan

Menariknya, meski telah berdiri selama 1 abad, beberapa ornamennya tetap terjaga keasliannya. Beberapa di antaranya yakni sokoguru, mimbar imam dan kolam wudhu laki-laki.

Kolam wudhu nya berada di samping masjid di mana para pengunjung lebih manfaatkan kolam mini daripada pancoran wudhu yang baru. Perlu terhitung diketahui bahwa kolam mini dibangun pada th. 1893 oleh KH Delamat.

Warga setempat percaya bahwa air kolamnya bisa mengobati berbagai jenis penyakit.

3. Kayu yang Berubah

Struktur Masjid Suro Palembang dikenal sangat kuat, muncul dari konstruksi atap bertingkat dan menara yang dimilikinya. Selain itu, masjid ini dapat dukungan oleh 16 tiang, yang terdiri dari 4 tiang Soko Guru utama dan tiang penopang lainnya yang hingga kala ini belum diganti.

Menurut pengetahuan yang ada, kayu yang digunakan mulanya adalah jenis kayu kelas tiga. Namun, berkat doa KH Delamat, kayu berikut dikatakan telah beralih menjadi kayu kelas satu, atau kayu unglen, yang merupakan jenis kayu berkwalitas tinggi.

4. Mimbar

Wisata Masjid Suro Palembang tidak hanya menarik gara-gara kolamnya penyembuhannya, tapi terhitung mimbarnya yang mencerminkan ketekunan ulama dalam menyebarkan ajaran Islam.

Di mimbar berikut terdapat sebuah peti yang pada masa selanjutnya digunakan untuk menyimpan senjata sebagai bagian dari perjuangan melawan penjajahan Belanda.

Kejadian ini berjalan sebelum akan KH Delamat diasingkan, tandanya periode penting dalam histori masjid tersebut.